Cinta seorang gadis psycopath(21+)

AXEL



AXEL

0"Xel, mau sampai kapan kau mengurung dirimu sendiri di dalam kamar?" teriak Elizabeth dari luar kamar.     

Axel menghela napas panjang. Diletakkannya foto dirinya bersama Chaliya di balik bingkai berwarna emas dan kemudian beranjak membuka pintu.     

"Ada apa Ma? Apakah tante Livia dan Arabella sudah kembali?" tanya pria itu dengan raut wajah kusam.     

"Sudah, sejak pukul setengah delapan tadi." Elizabeth yang mulanya hendak memarahi putranya pun urung. Ia merasa kasihan dan sangat iba pada Axel. Sakit hati dan kecewa ditinggal pergi oleh calon pengantinnya terlihat sangat jelas sekali di wajahnya.     

"Ini sudah larut. Kenapa mama masih belum juga tidur?"     

"Kamu yang sabar. Ayo, kita makan dulu! Lagi pula, bagaimana mama bisa tidur dengan nyenyak sedangkan putrakama disini masih belum makan sama sekali sejak pagi tadi?"     

"Baiklah ayam bangkok itu kita makan malam bersama!" jawab Axel seperti anak kecil yang sangat patuh dan penurut sekali.     

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Elisabeth pada putranya. Tapi, dia menahan dan menunda pertanyaannya kali setelah makan malam selesai. Dia tidak mau semua pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan nanti malah justru merusak selera makan Axel. Sebab, pikirannya pasti sudah kacau. Jadi, makan harus banyak agar tidak samapi sakit.     

"Kamu makanlah yang banyak," ucap wanita itu pada putranya. Melihat Axel cukup lahap makannya, dan tampak tidak begitu memikirkan tentang kejadian pagi tadi, Elizabeth merasa sedikit lega.     

"Sebanyak apa aku harus makan, Ma? Kapasitas perutku juga segini," jawab pria itu kemudian meletakkan sendok dan garpu kemudian mengambil tisu untuk mengelap bibir dan minum.     

"Oh, kamu sudah kenyang, ya? Kita duduk di halaman belakang, yuk! Mama ada yang mau diobrolkan," ujar Elizabeth.     

Tanpa menjawab, iya atau tidak. Pria itu pun beranjak dan mengekor mamanya ke belakang rumah. Di sana mamanya langsung duduk dengan santainya menikmati pemandangan taman di malam hari yang terlihat indah. Apabila pernikahannya dengan Chaliya tidak gagal. Tapi, karena gagal dan suasana hatinya sedang tidak enak maka semua nampak biasa saja. Tak ada yang istimewa.     

"Ada apa, Ma?" tanya Axel. Seolah dia mengerti apa tujuan mmaanya mengajak ke mari.     

"Kamu jangan tersinggung atau marah. Mama cuma bertanya saja. Soal kamu dan Chaliya, mama sebagai ibu kamu berhak tahu, kan?" tanya Elizabeth dengan sangat hati-hati.     

Axel mengangguk pelan. Siap menjawab apapun pertanyaan dari mamanya. Tapi, ada rasa takut juga jika nanti mamanya akan mengerahkan anak buahnya dan menangkap Chaliya untuk di hukum.     

"Mama jika mau bertanya, silahkan saja. Tapi, jangan sampai ambil tindakan atas kasus ini diluar pengetahuan ku."     

"Baik. Mama berjanji padamu. Sebenarnya, seperti apa hubunganmu dengan Chaliya itu? Maaf, Apakah kamu tidak bisa membedakan seseorang yang benar-benar tulus atau tidak kepadamu?"     

'Sudah kuduga!' batin pria itu.     

"Aku mungkin terlalu dibutakan oleh cintaku padanya, Ma. Sehingga aku terlalu memaksakan keinginanku. Tanpa mau peduli apa yang dia inginkan. mungkin selama ini dia muak dan ingin berkata tidak aku tak memberi kesempatan untuk berbicara makanya dia pergi di hari pernikahannya sendiri."     

"Kemana selama ini kamu merasa nya gimana? Dia seperti ada cerita apa nggak sama kamu?" tanya Elizabeth.     

"Aku tidak tahu. Tapi jika aku lihatnya kembali, dia seperti tak berjanji dia menolak tapi tidak bisa."     

"Lalu, kenapa kamu tidak menunggu jawaban darinya? Memang ketika kau lamar dia di depan kami, adapun dia tidak ada mengatakan kata-kata sebagai jawaban," ucapan Elisabeth sambil berusaha mengingat kejadian 1 bulan yang lalu.     

"Sekarang, Mama sudah tahu, kan siapa yang bersalah? Memang aku, kan yang bersalah, Ma? Jadi, aku minta mama jangan ganggu dia. Biarkan dia memilih bahagianya sendiri. Mungkin saja, di hatinya hanya ada Andra."     

"Ya sudah, kamu yang sabar, ya Xel. Mama janji sama kamu tidak akan mengusik Chaliya lagi."     

"Makasih, Ma," ucap Axel.      

Keduanya sama-sama diam. Karena tak ada lagi bahan pembicaraan, Axel pun meminta izin untuk masuk ke kamar.     

"Ma, sudah larut begini, Axel pamit ke kamar dulu, ya?" ucap Axel. Sebab ia merasa gabut sendiri.     

"Ya sudah. Cepatlah istirahat," ucap Elizabeth.     

Setelah putranya masuk ke dalam rumah, wanita itu pun juga ikut masuk ke dalam rumah. Di dalam kamar ya dia terus ajak mondar-mandir ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari tahu lebih dalam permasalahan antara Axel dan Chaliya.     

"Xel, mama cuma berjanji tidak menyakiti Chaliya saja kan, sama kamu? Artinya, mama masih boleh bertemu dan menanyakan langsung padanya terkaid masalah kalian berdua," gumam Elizabeth seorang diri. Akhirnya, ia pun bisa tidur nyenyak.     

***     

"Bu, ini Arabella buatkan wedang jahe. Diminum, ya biar tubuhnya hangat," ucap gadis muda itu sambil membawa segelas wedang jahe manis yang masih nampak mengepulkan asap.     

"Terimakasih, ya Ara. Ini sudah larut. Aapkah kau tidak mengantuk? Tidur, lah Nak," ucap Livia sambil menerima gelas berisi wedang jahe panas tersebut.     

"Arabella masih ingin di sini, menemani ibu dulu. Ibu kenapa gak cepat tidur?" tanya gadis itu khawatir.     

"Ibu masih belum ngantuk. Lagi pula, setiap hari ibu di rumah saja. Lain halnya sama kamu, besok pagi kamu kuliah kan?" ucap wanita paruh baya tersebut berusaha menenangkan putrinya.     

"Ibu apakah masih kepikiran dengan laki laki yang membawa pergi kak Chaliya tadi? Dia memang sangat mirip dengan mendiang kak Andra. Bahkan, jika saja kakak masih hidup, sepertinya susah dibedakan," ucap Arabella nekat.     

"Ibu cuma ingin tahu siapa sebenarnya pria itu. Untuk selebihnya, jelas dia bukan kakakmu. Karena dia mati di depan kita semua. Bahkan, ibu dan kau juga ikut hadir acara pemakamannya, bukan?" ucap Ligia dengan sabar.     

"Iya. Tak kusangka, ternyata kak Chaliya masih belum bisa move on dari kak Andra. Padahal, kalau dilihat dari segi manapun ke Axel justru lebih cakep, pinter dan tajir, lo ya Bu?" tanya Arabella yang merasa heran dengan selera Chaliya.     

"Harta, kedudukan dan rupa itu tidak menjamin seseorang bisa jatuh cinta, Ara. Mungkin saja dari segi fisik dan materi, kakakmu kalah dari kak Axel. Tapi, siapa yang tahu, kelebihan yang dimiliki oleh kakakmu Andra yang bisa membuat kak Chaliya jatuh cinta sampai tidak mau digantikan dengan Axel yang maha sempurna?"     

"Iya juga ya, Bu. Masing-masing dari kita ini sama sama memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri-sendiri. Tapi, jika bulan soal fisik, Arabella berani jamin, pria tadi tak lebih hanyalah sebagai pelampiasan saja bagi kak Chaliya. Karena di dalam hatinya hanya ada kak Andra saja."     

"Sudah, biarkan saja. Tak baik membicarakan orang di belakangnya. Ya sudah, ayo kita tidur," ucap Livia sambil meraih gelas berisi wedang jahe yang dibuatkan oleh putrinya.     

***     

Pagi itu, Chaliya sarapan bersama dengan Dicky di halaman samping rumah megah tersebut. Sengaja pria itu minta disiapkan sarapan di luar. Karena dari dulu dia memang suka dengan suasana pagi hari. Jadi, ia mengajak sosok yang baginya spesial untuk ikut melakukan hal yang dia sukai.     

"Makan di ruangan terbuka bagaimana menurutmu? Kau lebih suka di luar ruangan, atau di dalam?" tanya Dicky sambil meletakkan sandwich telur di atas selembar roti bakar dan menutupnya lagi dengan selembar roti bakar kosong.     

"Menyenangkan juga," jawab Chaliya sambil meletakkan es krim vanila pada roti tawar yang akan dia makan.     

"Ya, aku tahu keduanya sama-sama membikin kenyang. Tapi, mana yang paling menjadi favorit bagimu? Di luar, atau di dalam ruangan?" tanya Dicky lagi. Seolah dia tidak puas dengan jawaban yang Chaliya berikan, yang terkesan terserah saja.     

"Em... Bagaimana, ya?" Chaliya nampal melirik pemandangan di sekitarnya. Lalu kemudian, dia menjawab, "Ya, ternyata sarapan di luar lebih menyenangkan. Di tambah dengan udara pagi yang sejuk, suasana pagi yang cerah, tumbuhan yang tampak menghijau dan masih basah oleh embun dan diiringi dengan kicauan burung yang saling bersahutan. Ini sangat menyenangkan sekali," ucap wanita itu kemudian sambil menghirup udara pagi dalam-dalam dan mengeluarkannya dari mulut.     

Mendengar jawaban tersebut, Dicky tampak tersenyum puas. Pria itu senang jika wanita yang dia sukai sependapat dengan dirinya dan juga memiliki hobi yang sama pula. "Jadi, kalau begitu kita memiliki hobi yang sama. Lalu untuk berwisata kau lebih menyukai apa? Wisata alam atau buatan manusia?"     

"Wisata alam yaitu pantai Aku suka ombak air laut dan semua yang berbau dengan pantai apalagi yang pasirnya putih," jawab Chaliya cepat. Sambil menggigit sepotong demi sepotong roti tawar yang sudah diberi es krim rasa vanila tersebut.     

"Hari ini aku sibuk, lain kali jika aku ada waktu aku akan aja kamu ke Bali. Kita menginap di sana selama seminggu. Cara kurang puas, 1 bulan jika tidak apa-apa aku akan menyewakan sebuah hotel di dekat pantai yang menghadap ke pantai." ucap Dicky tidak canggung-canggung.     

"Kamu merasa nggak sih kalau kamu itu terlalu royal sekali sama aku? Mungkin perlu aku ingatkan kembali ke aku ini bukanlah wanita simpanan mu, tapi hanyalah teman," ucap Chaliya. Kemudian tangan kanannya meraih segelas susu hangat di hadapannya dan meminumnya hingga habis.     

"Apakah royal kepada teman adalah suatu bangsa yang besar? Kurasa juga tidak, kan?" jawab Dicky seolah mengelak.     

"Ya memang aku akui kau memang sangat baik sekali. Tapi apakah itu tidak berlebihan?"     

"Oh jika perlu aku akan mengajakmu ke Malvidas. Kurasa kau akan betah di sana. Kau kan wanita air."     

"Apa kau bilang? Wanita air? Hahaha!_ Chaliya tertawa terbahak mendengar ucapan yang dikatakan oleh Dicky. Entah ide dari mana pria itu. Bisanya dia sisebut sebagai wanita air olehnya.     

"Oh, iya. Apa rencanamu ke depannya? Setelah apa yang kau perbuat pada Axel, apa masih memungkinkan bagimu tetap bekerja di perusahaan miliknya?" tanya Dicky. Cukup menyebalkan pula baginya melakukan obrolan yang tidak berguna. Tapi, bersama Chaliya, rasanya berbeda. Ia bahkan rela apapun sekalipun tidak berguna asal bisa mengulur waktu supaya keduanya bisa berlama-lama     

"Sudah, biarkan saja. Tak baik membicarakan orang di belakangnya. Ya sudah, ayo kita tidur," ucap Livia sambil meraih gelas berisi wedang jahe yang dibuatkan oleh putrinya.     

***     

Pagi itu, Chaliya sarapan bersama dengan Dicky di halaman samping rumah megah tersebut. Sengaja pria itu minta disiapkan sarapan di luar. Karena dari dulu dia memang suka dengan suasana pagi hari. Jadi, ia mengajak sosok yang baginya spesial untuk ikut melakukan hal yang dia sukai.     

"Makan di ruangan terbuka bagaimana menurutmu? Kau lebih suka di luar ruangan, atau di dalam?" tanya Dicky sambil meletakkan sandwich telur di atas selembar roti bakar dan menutupnya lagi dengan selembar roti bakar kosong.     

"Menyenangkan juga," jawab Chaliya sambil meletakkan es krim vanila pada roti tawar yang akan dia makan.     

"Ya, aku tahu keduanya sama-sama membikin kenyang. Tapi, mana yang paling menjadi favorit bagimu? Di luar, atau di dalam ruangan?" tanya Dicky lagi. Seolah dia tidak puas dengan jawaban yang Chaliya berikan, yang terkesan terserah saja.     

"Em... Bagaimana, ya?" Chaliya nampal melirik pemandangan di sekitarnya. Lalu kemudian, dia menjawab, "Ya, ternyata sarapan di luar lebih menyenangkan. Di tambah dengan udara pagi yang sejuk, suasana pagi yang cerah, tumbuhan yang tampak menghijau dan masih basah oleh embun dan diiringi dengan kicauan burung yang saling bersahutan. Ini sangat menyenangkan sekali," ucap wanita itu kemudian sambil menghirup udara pagi dalam-dalam dan mengeluarkannya dari mulut.     

Mendengar jawaban tersebut, Dicky tampak tersenyum puas. Pria itu senang jika wanita yang dia sukai sependapat dengan dirinya dan juga memiliki hobi yang sama pula. "Jadi, kalau begitu kita memiliki hobi yang sama. Lalu untuk berwisata kau lebih menyukai apa? Wisata alam atau buatan manusia?"     

"Wisata alam yaitu pantai Aku suka ombak air laut dan semua yang berbau dengan pantai apalagi yang pasirnya putih," jawab Chaliya cepat. Sambil menggigit sepotong demi sepotong roti tawar yang sudah diberi es krim rasa vanila tersebut.     

"Hari ini aku sibuk, lain kali jika aku ada waktu aku akan aja kamu ke Bali. Kita menginap di sana selama seminggu. Cara kurang puas, 1 bulan jika tidak apa-apa aku akan menyewakan sebuah hotel di dekat pantai yang menghadap ke pantai." ucap Dicky tidak canggung-canggung.     

"Kamu merasa nggak sih kalau kamu itu terlalu royal sekali sama aku? Mungkin perlu aku ingatkan kembali ke aku ini bukanlah wanita simpanan mu, tapi hanyalah teman," ucap Chaliya. Kemudian tangan kanannya meraih segelas susu hangat di hadapannya dan meminumnya hingga habis.     

"Apakah royal kepada teman adalah suatu bangsa yang besar? Kurasa juga tidak, kan?" jawab Dicky seolah mengelak.     

"Ya memang aku akui kau memang sangat baik sekali. Tapi apakah itu tidak berlebihan?"     

"Oh jika perlu aku akan mengajakmu ke Malvidas. Kurasa kau akan betah di sana. Kau kan wanita air."     

"Apa kau bilang? Wanita air? Hahaha!_ Chaliya tertawa terbahak mendengar ucapan yang dikatakan oleh Dicky. Entah ide dari mana pria itu. Bisanya dia sisebut sebagai wanita air olehnya.     

"Oh, iya. Apa rencanamu ke depannya? Setelah apa yang kau perbuat pada Axel, apa masih memungkinkan bagimu tetap bekerja di perusahaan miliknya?" tanya Dicky. Cukup menyebalkan pula baginya melakukan obrolan yang tidak berguna. Tapi, bersama Chaliya, rasanya berbeda. Ia bahkan rela apapun sekalipun tidak berguna asal bisa mengulur waktu supaya keduanya bisa berlama-lama     


Tip: You can use left, right, A and D keyboard keys to browse between chapters.