Ingin Kukatakan Sesuatu

Yuana Merasa Berada di Atas Awan



Yuana Merasa Berada di Atas Awan

  "Istri Bos?" Panggilan ini langsung membuat Sean kebingungan. Dia pun bergumam pada dirinya sendiri, "Memangnya siapa calon istriku?"

  Jayanata menggelengkan kepalanya dan memaki, "Dasar dungu! Bukankah sekarang kamu adalah pegawai di Grup Citra Abadi? Kalau begitu, bosmu adalah Presdir Yuwono! Sementara, calon istri Presdir Yuwono adalah mantan adik iparmu, Yuana Wangsa dari keluarga kami!"

  Jayanata berkata lagi, "Keluarga Wangsa bermaksud untuk menikahkan Yuana dengan pemimpin Grup Citra Abadi. Jika hal ini terjadi, kamu akan menjadi bagian dari keluarga kami lagi! Haha! Kamu benar-benar ditakdirkan untuk memiliki hubungan dengan keluarga Wangsa kami rupanya."

  Sean memandang mantan sepupu iparnya dengan tatapan tidak percaya, kemudian bertanya, "Jadi, Yuana, kamu benar-benar yakin bahwa Presdir Yuwono akan menyukaimu?"

  Baru saja Sean melarikan diri dari cengkeraman keluarga Wangsa dengan menceraikan Giana Wangsa. Hanya dalam beberapa hari, lagi-lagi Sean sudah menjadi target Yuana Wangsa! Sebenarnya, utang budi macam apa yang ditinggalkan Sean di kehidupannya yang sebelumnya hingga membuat wanita-wanita dari keluarga Wangsa terus-menerus menghantuinya di kehidupannya yang sekarang?

  Yuana menjawab Sean dengan nada mencibir, "Tidak mungkin ada satu pun lelaki yang tidak tertarik padaku! Aku selalu menjaga kesucianku dan tidak pernah berpacaran dengan lelaki mana pun. Asalkan aku bertindak sedikit saja, Presdir Yuwono pasti akan menyukaiku!"

  "Selain itu, aku terus mencurigai bahwa orang yang memberikan gelang giok bernilai puluhan miliar di hari pesta perjamuan ulang tahun Nenek adalah Presdir Yuwono!" tambah Yuana, "Aku berencana untuk menyelidiki lebih dalam saat pulang nanti. Mungkin saja sejak awal Presdir Yuwono adalah penggemarku!"

  Sean tertawa terbahak-bahak. Dia tidak menyangka bahwa mantan sepupu iparnya ini bisa begitu memiliki kepercayaan diri setinggi langit. Hanya saja, jika dipikir dengan saksama, Yuana memang memiliki begitu banyak penggemar di internet dan menerima ribuan pesan pribadi dari para penggemar pria setiap hari. Hal semacam ini tentu akan membuat wanita manapun jadi besar kepala.

  Mendengar Yuana mengungkit hadiah itu lagi, Sean pun berkata, "Tidak perlu diperiksa lagi. Gelang itu memang pemberian Presdir Yuwono dari Grup Citra Abadi."

  "Ah!" Setelah mendengar kata-kata Sean, Yuana melompat kegirangan dan meraih baju Sean, kemudian bertanya dengan penuh semangat, "Benarkah? Benarkah? Benar-benar pemberian Presdir Yuwono?"

  Yuana beralih pada Jayanata dan berkata, "Apa aku bilang! Instingku memang benar! Ayah dengar, kan? Ternyata Presdir Yuwono memang menyukaiku!"

  Jayanata turut merasa kegirangan dan tidak mampu berkata-kata. Presiden Direktur Grup Citra Abadi memberikan hadiah yang begitu besar kepada keluarga Wangsa. Jika bukan untuk Yuana, lalu untuk siapa lagi?

  Jayanata berkata dengan gembira, "Benar-benar tidak disangka-sangka! Aku, Jayanata Wangsa, memiliki calon menantu yang merupakan Presiden Direktur Grup Citra Abadi! Aku akan memberitahukan ini pada Ibu! Ibu pasti akan sangat senang mendengarnya!"

  Sean memandang Jayanata dan mendengus dengan jijik. Sejak awal, Presiden Direktur Grup Citra Abadi memang sudah menjadi menantu keluarga Wangsa selama tiga tahun lamanya. Akan tetapi, mereka semua tidak pernah sekalipun tersenyum padanya.

  Apa? Ingin menyuruhku memiliki hubungan pernikahan dengan keluarga Wangsa lagi? Mimpi saja terus! Pikir Sean.

  Yuana yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Presdir Yuwono pun segera meraih baju Sean dan bertanya, "Di mana Presdir Yuwono? Aku ingin bertemu dengannya."

  Sean menjawab, "Dia sedang menemui tamu di ruang rapat."

  Tidak mengherankan bagi perusahaan sebesar Grup Citra Abadi untuk memiliki lebih dari satu ruang rapat. Karenanya, Yuana tidak ambil pusing dan lanjut bertanya pada Sean, "Kenapa sudah selama ini belum keluar juga? Apa jangan-jangan tamu itu sulit untuk ditangani?"

  Sean mengangguk dan menjawab, "Iya. Tamunya adalah seorang ayah dan putrinya. Ayahnya angkuh, sementara putrinya cukup cantik dan memiliki penampilan yang menarik. Dia sedang berusaha merayu Presdir Yuwono, jadi sepertinya butuh waktu yang lama bagi Presdir Yuwono untuk bisa keluar."

  Mendengar hal ini, Yuana naik pitam dan berseru, "Dasar wanita murahan! Bisa-bisanya bersikap begitu tidak tahu malu di perusahaan Presdir Yuwono! Pantas saja Presdir Yuwono tidak juga menemui kami! Di ruangan mana mereka sekarang? Aku ingin pergi ke sana untuk menampar wanita murahan itu!"

  Jayanata buru-buru menahan Yuana dan menegur, "Jangan gegabah! Kamu tidak boleh memberikan kesan pertama yang buruk di depan Presdir Yuwono! Lebih baik kita tunggu di sini saja!"

  Sean melirik keduanya dengan jijik, kemudian pergi meninggalkan mereka berdua tanpa mengatakan sepatah kata pun.

  Setelah beberapa saat, Rosiana datang dan memberitahu kedua tamu, "Tuan Jayanata, Nona Yuana, Presdir meninggalkan kantor karena sedang ada urusan. Presdir menyuruh Tuan dan Nona untuk kembali terlebih dahulu."

  "Hah?"

  Kedua ayah dan anak yang sudah menunggu selama satu jam penuh merasa sedikit kecewa. Jayanata langsung bertanya, "Kalau begitu, apa Presdir Yuwono mengatakan kapan beliau senggang? Apa nanti siang beliau akan kembali ke kantor lagi?"

  Rosiana menggelengkan kepalanya sambil menjawab, "Saya juga tidak tahu."

  "Baiklah."

  Jayanata dan Yuana akhirnya pergi meninggalkan ruangan dengan sedikit kecewa. Hanya saja, kedatangan mereka kali ini ke Grup Citra Abadi bukannya tidak mendapatkan apapun. Setidaknya mereka sudah tahu bahwa orang yang memberi hadiah seharga miliaran rupiah pada Nyonya Besar Wangsa adalah Presdir Yuwono!

  Begitu keluar dari gedung kantor, Jayanata menelepon dan meminta semua anggota keluarga Wangsa untuk berkumpul di kediaman Nenek Wangsa di Kelapa Gading. Jayadi dan Lana masih belum pergi dari sana, sementara Giana yang sudah pergi pun dipanggil kembali.

  "Ada apa? Baru saja aku pergi, sudah disuruh kembali lagi. Apa negosiasi kontraknya berhasil?" tanya Giana yang terlihat kelelahan. Dia bergegas datang, masih sambil memegang kunci mobil di tangannya.

  Yuana dengan sombong melirik Giana yang datang terlambat, kemudian menjawab dengan bangga, "Bukan mengenai kontrak, melainkan hal membahagiakan lainnya. Di hari pesta perjamuan ulang tahun Nenek, orang yang memberi gelang giok senilai puluhan miliar itu adalah presiden direktur Grup Citra Abadi yang baru!"

  "Apa? Pemberian Presdir Yuwono?" Jayadi tidak berani mempercayai apa yang baru saja didengarnya.

  Ada sedikit perasaan sedih di hati Giana. Sejak dirinya mengetahui bahwa Sean sudah mencuri barang milik keluarga Wangsa, dia bahkan mengira bahwa gelang giok itu merupakan pemberian Sean.

  Lana berkata, "Bagaimana bisa kabar ini disebut sebagai hal yang membahagiakan? Presdir Yuwono dan Wapresdir Yandra adalah sepasang kekasih, sementara Wapresdir Yandra memiliki hubungan yang baik dengan keluarga kita. Jika Presdir Yuwono juga ikut memberikan sebuah hadiah, bukankah tidak ada yang aneh?"

  Jayanata tersenyum dan membalas, "Lana, hubungan Presdir Yuwono dan Chintia Yandra sudah lama berakhir! Jika Presdir Yuwono memberikan hadiah itu demi Wapresdir Yandra, mengapa dia harus mengirimkannya secara pribadi di akhir? Bukankah hadiah dari Presdir Yuwono sangat bisa digabungkan dengan hadiah dari Wapresdir Yandra?"

  Berdasarkan etika suami-istri atau sepasang kekasih, pemberian hadiah tidak dilakukan secara terpisah. Sementara itu, tampaknya Chintia Yandra sendiri juga tidak mengetahui bahwa Presdir Yuwono akan mengirimkan hadiah pada keluarga Wangsa di hari itu.

  Lana bergumam, "Kalau begitu, maksudmu…"

  Yuana dengan bangga membalas, "Apa masih perlu ditanyakan? Tentu saja Presdir Yuwono memberi Nenek hadiah demi diriku! Pada saat itu, bukankah Kak Giana masih belum bercerai dengan Sean?"

  Sesudah mendengar ini semua, Nenek Wangsa tersenyum puas dan berkata, "Masuk akal juga! Sejak awal, Nenek tahu bahwa orang yang memberikan hadiah ini pasti merupakan lelaki yang menyukai Yuana. Hanya saja Nenek sama sekali tidak menyangka bahwa lelaki itu ternyata Presiden Direktur Grup Citra Abadi! Keberuntungan keluarga Wangsa kita benar-benar sudah datang!"

  Yuana menimpali dengan manja, "Nenek, aku pasti akan mengembangkan keluarga Wangsa kita dengan baik bersama dengan Presdir Yuwono dan menjadikan keluarga kita sebagai keluarga kalangan teratas di Jakarta!"

  Nyonya Besar Wangsa tersenyum lebar dan membelai wajah Yuana dengan penuh kasih sayang sambil berkata, "Iya, iya! Cucu perempuan Nenek benar-benar tidak mengecewakan!"

  Kata-kata ini terdengar sangat menusuk di telinga Giana. Beberapa tahun belakangan ini, Giana selalu bekerja keras demi keluarga Wangsa. Tetapi, dia tidak pernah menerima pujian dari neneknya sejak dulu.

  "Dari siapa kamu mendengar ini semua? Apa informasi ini pasti bisa dipercaya?" tanya Giana.

  "Mantan suami tidak bergunamu itu yang mengatakannya. Tentu saja bisa dipercaya!" jawab Yuana. Kemudian, dia kembali beralih pada Nyonya Besar Wangsa dan berkata, "Nenek, pagi ini Presdir Yuwono terlalu sibuk dan tidak sempat menemui kami. Nanti siang aku sendiri yang akan menemuinya. Nenek tenang saja. Biar aku sendiri yang membereskan masalah penandatanganan kontrak itu!"

  Yuana berani menjamin hal itu di depan seluruh keluarga Wangsa. Nenek Wangsa memuji Yuana dengan gembira, "Kerja yang bagus!"

  Yuana yang merasa berada di atas awan pun berkata pada Giana, "Kak, jika nanti siang Kakak senggang, Kakak jadi sopirku dan mengantarku ke Grup Citra Abadi saja!"


Tip: You can use left, right, A and D keyboard keys to browse between chapters.