Shadow of Love

Menjual diriku padamu



Menjual diriku padamu

3"Kamu kenapa sayang... kata bibik kamu seharian ini gak keluar kamar... apa kamu sedang gak enak badan ?," Hans yang baru pulang dari kantor, tampak berjalan menghampiri Anita yang masih bermalas-malasan diatas tempat tidur dalam kamar pribadi mereka,     

"Iya, nggak tau nih ... badanku rasanya capek, pegal-pegal semua, tadi siang sebenarnya sempat mau ke-spa, tapi gak jadi, mager, hari ini bawaannya males mau ngapa-ngapain," jawab anita manja, sambil meraih satu tangan suaminya yang berdiri mendekat disampingnya, ia lalu memeluk tangan Hans didadanya,     

"Apa itu karena semalam aku terlalu memforsirmu ?",     

"Hmm bisa jadi....", jawab Anita lugas, sambil manggut-manggut, bola matanya naik keatas, menatap kearah Hans dengan tatapan menyalahkan, seolah membenarkan argument suaminya itu, tapi Hans langsung memuncupkan bibirnya dan melengos kesamping, tidak mau mengakui, " Enggak jugak ahh, semalam bukannya kita cuman main sekali aja... iya khan ?!",     

"Huh kau ini, kebiasaan !, gak sportive, suka gak mau ngakuin perbuatan sendiri, emang iya, ... semalam kita memang cuman main sekali doank..... tapi khan durasinya pake luama~aa",     

"Hehehe benarkah ?, bukankah itu tandanya aku hebat khan yank...", ucap Hans merajuk,     

"Iya, tentu saja dong... suami siapa dulu .... suamiku adalah pria terhebat didunia, tidak ada lawan !!", Jawab Anita tegas, langsung mengiyakan ucapan Hans, sambil menganggukkan kepalanya mantap, ia menatap suaminya dengan bangga, seolah ingin meyakinkan Hans, pada kemampuannya sebagai lelaki yang perkasa,     

mendengar jawabban Anita itu, Hans tampak senang dan tersenyum puas, ia lalu menghempaskan pantatnya ditepi ranjang, duduk disamping Anita, membiarkan isterinya itu terus menciumi tangannya yang berada dalam pelukannya, "Ihh... kamu bauk ihh .... pasti dari pagi belom mandi yah ?" tebak Hans spontan, saat mencium rambut Anita yang tidak wangi seperti biasanya,     

"Hehehe iya." jawab Anita polos,     

"Duh kok jadi jorok begini sih kamu,.... buruan cepetan mandi dulu sana, .. aku ogah deket-deket sama kamu kalau bauk", sambil melepas tangannya dari pelukan isterinya, tangan satunya lagi melepas dasi di lehernya,     

Hans mengipas hidungnya sambil pergi menjauh dari tempat tidur, berpura-pura jijik padanya, tapi Anita tampak melengos dengan cuek, "Bentar lagi yank.... aku kumpulin niat dulu yahh .." jawab Anita ngeles, ia kembali merebahkan tubuhnya diranjang, dan mengambil smartphonenya yang diletakkan dibawah bantalnya, melanjutkan menonton drama korea yang seharian ini ditontonnya marathon,     

Hans seketika menghentikan langkahnya, dan menatap kearah Anita dengan wajah tidak percaya, Anita tetap cuek saja, ia justru membalikkan badannya, dan berbaring membelakangi Hans,     

Hans membuka mulutnya terngangga, merasa kesal pada reaksi tidak peduli Anita itu "Aku bilang mandi sekarang jugak !! " ucap Hans tegas,     

Tanpa melihat pada wajah galak suaminya Anita mengangkat tangannya keatas, "Iya, bentar .... Lima menit lagi...",     

Hans berkacak pinggang, "Aku bilang Sekarang !!"     

Anita diam saja, ia tampak terus melanjutkan aksinya menonton drama favoritenya,     

merasa diacuhkan, Hans langsung berjalan mendatangi Anita dan langsung menarik tangannya dengan kuat, agar bangkit dari tidurnya,     

Anita membiarkannya, ia menurut dan duduk diranjang dengan wajah lemas seolah-olah tidak bertenaga, dan detik selanjutnya, saat Hans baru saja melepas tangannya, Anitapun kembali melunglai diranjang,     

Merasa kesal dan tidak sabar, Hans tidak ingin membuang waktunya lagi, dengan paksa ia langsung mengangkat tubuh isterinya itu dan memanggulnya di pundaknya dan langsung membawanya ke kamar mandi.     

Anita hanya bisa pasrah sambil berpura-pura menangis terzolimi, "Huhuhu suamiku KDRT lagi ... tunggu aja, ntar aku aduin kamu ke mamah, ehh bukan ke komnasham... biar tahu rasa kamu huhuhu,"     

"Aktingnya kurang bagus !!, kurang menjiwai !!, coba lagi lain kali, ... sekarang cepat buruan mandi yang harum, pokoknya gak boleh keluar sebelum wangi. okay !" jawab Hans tak kalah random, ia lalu meletakkan isterinya pada bathtub oval dalam kamar mandi mereka, dan meninggalkannya begitu saja disana,     

Hans membuka baju kerjanya, wajahnya tampak terus tersenyum cerah, melihat tingkah menggemaskan isterinya hari ini,     

Drrtt....Drrtt...     

"Hii..." Sebuah pesan masuk diponselnya, Hans langsung mengeryitkan keningnya, saat membaca sebuah pesan singkat dari Vanessa, 'Vaness... ?' sebenarnya sudah hampir dua bulan ini mereka tidak saling berkirim kabar, dalam artian, mereka tidak saling bertukar link film porno seperti biasanya, karena atas dasar itulah hubungan mereka terbentuk,     

Bagi Hans, Vanessa sudah seperti old couple-nya, sebab hanya padanya ia bisa bicara dengan terbuka tentang fantasy sexualnya, selama ini mereka sering bertukar ide, dan melakukan berbagai eksperiment berbagai fantasy terpendamnya, melakukan semua hasrat liarnya tanpa merasa takut dan dihakimi, karena ia tahu, Vanessa juga memiliki fantasy yang sama liar dengannya,     

"What's up" tulis Hans, menjawab pesan Vanessa sambil tersenyum simpul,     

"Apakah kamu free ?, bisakah kita bicara sebentar ?",     

Tatapan Hans reflects melihat kearah pintu kamar mandi yang tampak tertutup rapat, ia memperkirakan Anita akan berada didalam sana minimal tiga puluh menit-an, jadi ia pikir, tidak akan ada masalah jika ia mengobrol sebentar dengan Vanessa sekarang,     

Tanpa berpikir panjang, Hans lalu menyentuh nama Vanessa pada contact personalnya, untuk membuat panggilan telfon,     

Vanessa tampak sedikit surprise dengan response cepat Hans, "Hii... emang sekarang kamu tidak sedang bersama isterimu ?," tanya Vanessa curious,     

"Ada.... nita sedang dikamar mandi...",     

"Ohh...",     

"Jangan kau bilang kau hanya ingin bertanya tentang ini...?",     

"Oh, tentu saja tidak...."     

"Jadi cepat katakan.... ada apa ?"     

"Kenapa kau selalu terburu-buru.... tegang sekali .... tidak bisakah kau sedikit santai padaku..." keluh Vanessa upset,     

"Aku tidak punya waktu berbasa basi",     

"Aku tahu.... em-m sebenarnya aku sedang dalam kesulitan... em-m I'm broke..."     

"Hahh ?",     

"Yeah... saat ini aku benar-benar zero money, tabungan dan semua asset-ku habis, aku baru saja tertipu investasi crypto, dan sadisnya temanku yang mengenalkan pada bisnis ini tiba-tiba juga ikut menghilang bersamaan saat kuterima info kalau nilai tukar coin tiba-tiba terjun bebas dipasaran,"     

Vanessa menghentikan ucapannya sejenak, Hans bisa mendengar ia menghempas nafasnya dengan keras, seperti sedang merasa putus asa, "Kenapa kau bodoh sekali.. hari gini masih percaya investasi non fisik begitu... you so dumb ...",     

"Yeah... saat itu aku tergiur pada penampilan temanku yang tampak berubah drastis, ia mendadak jadi crazy rich dalam sebulan, dan aku benar-benar menjadi gelap mata....",     

"Huh mana ada bisa jadi crazy rich dalam sebulan... emang menang lotre ?!..."     

"Yah ... bagaimana lagi... semua sudah terjadi..."     

"Jadi kau ada dimana sekarang ?"     

"Masih bertahan di hotel S dengan saldo terakhirku,...",     

"Hahaha.... poor you..." jawab Hans sengaja mengejek,     

"Yeah.. so... em-m sebenarnya aku malu untuk memohon padamu, tapi kondisiku sekarang benar-benar sudah bankrut dan tidak punya apa-apa lagi.... em-m bisakah jika aku menjual diri padamu ?"     

"Hahaha menurutmu, seberapa berharga dirimu ? berapa harga yang harus kubayar untuk membelimu ?"     

"Huh kau jangan terlalu kejam padaku !!, aku sudah sangat menyedihkan sekarang, kau jangan menindasku lagi....",     

"Loh bukannya kau sendiri yang bilang .... mau menjual dirimu padaku right ?",     

"Yeah... fine, aku tidak akan pasang harga padamu, aku cuma minta kau hidupi aku sementara waktu ini... hingga aku bisa menemukan pekerjaanku kembali.... bagaimana ?"     

"Dasar merepotkan saja....",     

"Ayolah.... itung-itung kau memelihara satu sugarbaby right, nothing to lose ! ... dan sebagai timbal balik aku akan memberi pelayanan terbaik untukmu kapanpun kau mau gimana ?",     

Hans langsung tersenyum samar, dan menulis sebuah angka,     

Vanessa mengeryitkan keningnya, ia masih berbicara dengan Hans dalam sambungan telfon mereka, saat tiba-tiba satu notifikasi transfer dana masuk ke mobile banking miliknya, dan matanya langsung membola lebar ketika melihat angka 1 milyar rupiah pada nominal transfer itu,     

"Hans......?!",     

"Why?.. apa itu terlalu sedikit ?",     

"No.... I mean.... are you kidding me ?", Vanessa tahu, ia tidak semenarik Katty dihati Hans, tapi meskipun begitu, entah mengapa ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa dihatinya, angka itu terlalu kecil dibandingkan dengan apa yang telah diberikan Hans pada Katty, mungkin hanya seharga satu tas milik Katty saja, meski ia tidak sebanding dengannya, tapi semula hatinya berharap, jika Hans akan menghargainya minimal setengah, atau seperempat dari nilai yang diberikan pada Katty,     

tapi Vanessa mencoba tertawa riang, menunjukkan gratitude-nya, ia berusaha menghibur dirinya sendiri, bahwa ia patut bersyukur, karena Hans setidaknya masih mau membantu masalah financialnya saat ini, dan uang satu milyar itu dapat digunakannya untuk menyambung hidupnya sementara,     

"Itu sebagai DP awal, aku akan menentukan berapa hargamu, setelah melihat bagaimana performamu besok,.. bagaimana ?"     

Mata Vanessa seketika bersinar cerah, rasa kecewa yang barusan dirasakannya langsung berubah menjadi bahagia yang tidak terkira,     

"Ahh Hans.... you're the best !!. I know it..., I can always count on you....",     

"Shttt... enak saja, ingat, ini hanyalah sebuah transaksi bisnis.... jadi jangan baper paham !!",     

"Sure !, I'm sorry..... I'm too exited....",     

"Okay.... besok kita bicara lagi... aku akan tutup telfonnya, aku akan melihat apakah isteriku sudah selesai mandi,",     

"Sure... so see you tomorrow..."     

Tanpa menjawab ucapan perpisahan Vanessa, Hans langsung menutup ponselnya,     

Anita berbaring dengan nyaman dalam bathtub mewah di kamar mandi nan luas itu, matanya tampak terpejam rapat dan santai, air harum dengan gelembung berwarna putih menari disekitar payudaranya, ia sungguh menikmati kesenangan itu,     

Entah mengapa tiba-tiba feeling nya merasakan seperti sedang diawasi, Anita lalu membuka matanya, dan ia langsung terperanjat dan duduk dengan tegak saat melihat Hans kini telah berada tepat didepannya, "Maaf, apakah aku mengejutkanmu ?", tanya Hans dengan wajah cemas, sambil membelai rambut Anita yang disanggul keatas,     

"Ahh aku hanya merasa sangat relax tadi, hingga hampir membuatku tertidur disini hehehe...."     

Hans menyeringai, "I know.... dan memandangmu begitu, seperti dewi venus keluar dari busa , membuatku langsung terguncang ...", pandangan Hans terpaku pada payudara kencang Anita yang seolah sedang menantangnya,     

Hans lalu melepas jubahnya dan langsung masuk ke dalam bathtub oval itu, ikut bergabung berendam bersama Anita,     

Anita otomatis menggeser tubuhnya, memberi space pada Hans dengan wajah keberatan, "Wait.... apa yang kau lakukan.... aku belum selesai..."     

"Aku sudah menunggumu terlalu lama....",     

Hans menatap Anita dengan lekat dan langsung mencondongkan tubuhnya pada Anita, dengan lembut ia lalu menyapukan bibirnya ke bibir Anita, tangan kokohnya menekan dada istrinya agar ia bersandar dengan nyaman pada dinding bathtub mewah itu,     

"Hans... bisakah aku menyelesaikan mandiku sebentar...", ucap Anita lembut, Anita tahu, Hans ingin mengajaknya bercinta, tapi saat ini kondisinya benar-benar sedang tidak fit, meskipun ia tahu, pantang untuknya menolak permintaan suaminya itu, tapi setidaknya ia ingin melakukannya di tempat yang lebih nyaman, kalau bisa ia ingin melakukannya diatas ranjang tidur mereka,     

"Aku ingin melakukannya sekarang... disini...", tegas Hans, seolah tidak mau menundanya lagi,     


Tip: You can use left, right, A and D keyboard keys to browse between chapters.